Tahun baru Imlek-Cap Go Meh, antara budaya, tradisi dan upacara keagamaan

Manado, Exploresulut.com – Perayaan Tahun Baru Imlek maupun Cap Go Meh cenderung lebih dikenal sebagai sebuah kebiasaan atau tradisi/warisan turun-temurun warga etnis Tionghoa yang dibawa masuk sebagai sebuah bentuk kebudayaan. Dalam perjalanannya di berbagai daerah di Indonesia kemudian terjadi akulturasi budaya dengan kearifan lokal dimana budaya itu bersinggungan.

Namun hal yang patut kita kembalikan pada kedudukannya seiring dengan hakekat dari selebrasi Imlek dan Cap Go Meh adalah latar belakang, dasar dan tujuan dilakukannya perayaan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh.

Khonghucu adalah agama yang sudah masuk di Indonesia jauh sebelum bangsa ini merdeka yakni tahun 1779 di Batavia dengan berdirinya Ming Chen suyuan dan tahun 1900 berdiri Tionghoa Hwee Koan di Batavia dan seterusnya di berbagai kota di Nusantara. Khonghucu menjadi salah satu dari enam agama yang dilayani negara sesuai amanat UUD 1945 yang mana terlihat dalam dokumen negara ini merujuk pada penetapan pemerintah tentang hari raya Nomor 02-Pem-1946 ada empat hari raya besar bagi pemeluk agama Khonghucu yang diakui negara yakni Tahun Baru Imlek, Hari lahir Nabi Khongcu, Ceng Beng dan Hari wafat Nabi Khongcu begitu pula dengan penetapan presiden Nomor 1 tahun 1965 di era Soekarno selaku presiden menetapkan Khonghucu sebagai salah satu dari enam agama yang dilayani negara.

Namun terbitnya Inpres Nomor 14 tahun 1967 di masa Soeharto selaku presiden terjadi tindakan yang diskriminatif terhadap etnis Tionghoa yang merupakan mayoritas pemeluk khonghucu di Indonesia selama puluhan tahun.
Nanti di masa reformasi pada saat presiden Abdurahman Wahid menerbitkan Keputusan Presiden nomor 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres nomor 14 tahun 1967 tersebut membuat agama Khonghucu kembali ke posisinya sebagai agama yang dilayani (bukan penetapan agama resmi seperti yang biasa kita kenal) di negara ini. Dan ketika agama Khonghucu mendapat pengakuan maka geliat umat pun menjadi sebuah keberadaan yang kemudian harus diakui di satu sisi dan di sisi lain perlu kerja keras umat dan penganutnya untuk mendapatkan hal tersebut.

Singkatnya nama asli agama Khonghucu adalah Ru Jiao. Apa arti Ru Jiao? Huruf Ru dalam bahasa Huan Yu dibangun dari huruf Ren dan Xu. Ren berarti ‘manusia’, Xu berarti ‘perlu’. Dengan demikian Ru dapat berarti ‘yang diperlukan manusia’. Sedangkan huruf Jiao dibentuk dari huruf Xiao yang berarti ‘bakti’, dan huruf Wen yang berarti ‘ajaran’. Dengan demikian Jiao berarti ‘ajaran tentang berbakti’. Berdasarkan arti huruf Ru Jiao tersebut, maka Ru Jiao dapat dikatakan sebagai agama yang diperlukan untuk mengajarkan manusia berbakti. Atau dengan kata lain, Ru Jiao merupakan agama bagi orang yang taat, yang tulus berserah dan bertakwa kepada Thian (Tuhan Yang Maha Esa), yang halus budi pekertinya, yang terpelajar dan beroleh bimbingan. Karenanya umat Ru diisyaratkan menjadi orang yang Rou (lembut hati, halus budi pekerti, penuh susila), You (berbuat baik, lebih baik. Luhur dalam tingkah laku, He (harmonis dalam Yin dan Yang, selaras), dan Ru (bersuci diri, selalu memperbaiki dan membina diri).

Seperti dijelaskan oleh Wenshi Sofyan Jimmy Yosadi bahwa selebrasi Tahun baru Imlek dan Cap Go Meh tak bisa dihindari jika ada yang beranggapan merupakan sebuah seremoni kebudayaan oleh sebagian besar kalangan yang ada di Manado dan Indonesia.
Namun secara keagamaan Perayaan Imlek dan Cap Go Meh adalah bentuk konkrit dari upacara keagamaan yang memiliki nilai-nilai ritual keagamaan yang harus dijalankan sesuai dengan ajaran yang berlaku di dalam ajaran agama Khonghucu.

“Tak bisa disalahkan jika ada perspektif masyarakat yang menyatakan bahwa Imlek dan Cap Go Meh adalah bentuk kebiasaan atau kebudayaan namun yang terpenting dan tidak boleh dinafikan ialah bahwa Imlek dan Cap Go Meh merupakan bagian dari upacara keagamaan yang mengikuti aturan dan ketentuan yang diatur dalam tatanan upacara keagamaan Khonghucu atau Ru Jiao,” tutur Wenshi Yosadi yang juga menjabat anggota dewan pakar Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) saat ditemui di klenteng Kong Zi Miao Manado baru-baru ini.

Dijelaskan Wenshi Yosadi, akibat dari akulturasi budaya dalam pelaksanaan Imlek dan Cap Go Meh di Manado yang sangat positif membuka ruang bagi umat dan pemeluk agama Khonghucu untuk dapat lebih menyelaraskan ajaran kebajikan, Laku Bhakti, Kemanusiaan, Cinta kasih, Kebijaksanaan dan ajaran lainnya sebagaimana ajaran yang tertulis dalam kitab Wu Jing, Si Shu serta kitab Xiao Jing yang menjadi ajaran utama Khonghucu, juga mampu untuk membawa ajaran agama Khonghucu untuk makin dikenal dan dipahami oleh masyarakat luas.

“Perayaan Imlek dan Cap Go Meh memiliki daya terima yang kuat, nol intoleransi dan berakar di kalangan masyarakat Kota Manado dan sekitarnya akibat terjadinya proses akulturasi budaya dengan kebudayaan minahasa, Sangihe, Bolaang Mongondow, Bantik dan lainnya sehingga sebenarnya menjadi satu kekuatan bagi kami selaku penganut dan pemeluk agama Khonghucu untuk mampu menyebarkan ajaran kebajikan sebagai ajaran penting dalam agama ke berbagai kalangan. Ini penting dilakukan agar ke depannya upacara keagamaan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh kemudian akan menjadi ruang selebrasi keagamaan sekalipun tentu juga harus diterima bahwa ini juga rangkaian acara kebudayaan yang ada di Kota Manado,” tutup Wenshi Yosadi. (Denny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *