Bersama Kita Jaga Air dan Bumi Didengungkan Komunitas Peduli Sungai

Manado604 Dilihat

MANADO- Musim kemarau yang berkepanjangan tahun 2026 ini mengakibatkan krisis air bersih serta kekeringan ekstrem.

Dampak utama musim kemarau panjang ini diantaranya krisis air bersih. Dimana, sumur warga, sungai kecil, dan waduk mengalami penyusutan atau kering total, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Menyikapi hal ini Komunitas Peduli Sungai (KPS) Sulawesi Utara melaksanakan aksi Gebyar Merah Putih ke-81 dengan melakukan pertemuan bersama masyarakat dengan tema “Diskusi Klasi Tobat Ekologis dan Tobat Ekosistem” di Kelurahan Bailang, Kota Manado, Jumat (28/08/2026).

“Di saat kondisi cuaca ekstrem ini, perlu adanya pola menabung air diantaranya hemat air, persediaan terjaga, pelestarian lingkungan, dan hidup lebih berkelanjutan,” seru Pembina KPS Sulut, Boy Maleke.

Mari bersama kita jaga air dan bersama kita jaga bumi, lanjut dikatakan Maleke.

Menariknya, pada pertemuan ini menampilkan beberapa narasumber terbaik diantaranya, Kepala Stasiun BMKG Klimatologi Sulut, Aris Yunatas SP, Pemerhati Lingkungan, Boyke Rompas, Budayawan, Bode Talumewo dan Pakar Hukum, DR Denny Karwur.

Aris Yunatas memaparkan kondisi yang terjadi saat ini disejumlah kabupaten/kota di Sulawesi Utara di musim kemarau ini.

“Kita harus bijak menggunakan air, tidak boros air. Diantaranya saat mencuci baju, mandi dan lainnya,” ucap Aris.

Selain itu Aris menjelaskan situasi suhu udara yang terjadi di beberapa daerah di Sulut akibat dampak El Nino.

“Dari amatan yang ada, kondisi cuaca panas ini masih akan berlangsung hingga bulan September 2026,” terang Aris.

Sementara itu, Budayawan Bode menjelaskan tentang struktur sejarah daerah-daerah di Sulawesi Utara diantaranya suku, adat dan budaya. Dijelaskan terkait keseimbangan alam.

Kemudian, DR Denny Karwur menuturkan terkait membangun satu konsep hukum tentang sungai dan bagaimana kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga kelestarian sungai dan pesisir pantai.

Dilain pihak, Boyke Rompas menyampaikan terkait pentingnya alam bagi kehidupan manusia.

“Kembali ke alam adalah suatu peringatan bagi kita. Mari kita jaga alam ini. Bagaimana tanggungjawab kita mencintai alam ini, jika tidak ada hutan maka tidak air. Sehingga, kita harus menjaga kelestarian alam,” imbau mantan Kadis Pariwisata Pemprov Sulut ini.

Dia mengusulkan, apabila kita mempunyai konsep terbaik, mari bekerjasama dengan pemerintah.

Selain itu perlu adanya kesadaran masyarakat menyangkut sungai. “Mari jaga sungai, jangan buang sampah di sungai,” ajak Boyke.

Turut hadir perwakilan KPS di Kota Manado, LSM, mahasiswa, tokoh masyarakat dan pemerhati lingkungan.(yanes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *