Ketersediaan Pangan Sulut Butuh Sentuhan Teknologi

Capaian produksi pangan perlu ada inovasi maupun pemanfaatan teknologi sehingga Sulut dapat mencapai target kedaulatan pangan

Manado, Exploresulut.com– Ketersediaan pangan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), diketahui dalam kondisi melimpah. Hal itu ditandai dengan hasil kenaikan produksi dalam 4-5 tahun terakhir.
Namun demikian, capaian produksi tersebut perlu diupayakan melalui inovasi maupun pemanfaatan teknologi sehingga Sulut dapat mencapai target kedaulatan pangan.
“Meski terjadi kenaikan tetapi hasil pertanian kita masih belum ada inovasi. Hal ini perlu diperhatikan, terutama dari sisi strategi sehingga hasilnya semakin baik,” ungkap akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Prof Dr Lucia Mandey MS di kegiatan FGD Penyempurnaan Draft Awal Dalam Rangka Penyusunan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG) tahun 2021-2026 yang digelar di hotel Quality Manado, Kamis (11/8/2022).
Sebagai Pokja Tenaga Ahli, Prof Lucia berharap juga untuk penerapan pertanian modern yang memanfaatkan teknologi.
“Penggunaan teknologi dalam produksi pangan belum optimal. Air dalam pertanian juga yang terbatas serta perlunya diversifikasi produk,” ujarnya sembari menambahkan peningkatan pangan juga ditentukan oleh aktivitas masyarakat. Hal itu mengacu pada UU nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan.
Disampaikan Akademisi Unsrat Manado, Stefanus Sampe PhD, draft awal penyusunan RAD terbagi dalam empat Pokja, yakni mencakup ketersediaan yang melibatkan Dinas Pertanian, Keterjangkauan oleh Dinas Pangan, Pemanfaatan oleh Dinas Kesehatan dan Kelembagaan melibatkan Bappeda.
Dokumen yang disiapkan sebut Sampe, yakni terkait Rencana Aksi Daerah (RAD) menyesuaikan dengan Rencana Aksi Nasional. “RAD kita sesuaikan dengan RAN yang mencakup analisis dan matriks. Kita mengacu di situ,” ujarnya.
Pada pertemuan itu, penjabat Sekdaprov Sulut Praseno Hadi Sulut yang diwakili Kabid Perekonomian dan Perdagangan Bappeda Sulut Elvira Katuuk meminta para peserta FGD untuk dapat memberikan masukan yang subtantif.
“Kegiatan ini salah satu tahapan penyusunan Rencana Aksi Daerah. Mari sama-sama kita optimalkan untuk dapat memberikan masukan yang subtantif,” kata Katuuk.
Dia menjelaskan, pemerintah pusat dan daerah setiap lima tahun menyusun RAD Pangan dan Gizi. Hal ini guna mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Sulut mengambil bagian singkronisasi pusat dan daerah dengan menyusun di tingkat provinsi. Yang periodenya disamakan dengan RPJMD 2021-2026,” tuturnya.
Dia mengatakan, RAD yang tersusun akan menjadi pedoman mempriotaskan untuk menjelaskan pentingnya gizi kepada pemangku kepentingan dalam rangka pembangunan pangan dan gizi di Sulut.
“Sehingga sesuai prioritas daerah dan pusat. Kami berterima kasih di bawah koordinasi kelompok kerja tenaga ahli kita telah menghasilkan matriks yang menjadi bahan FGD,” ungkapnya.
Menjadi penting, lanjutnya semua Pokja untuk mencermati apa yang akan disampaikan tenaga ahli untuk betul-betul memastikan sesuai dengan renja yang ada di periode 2021-2026.
“Semua peserta rapat adalah narasumber. Lakukan dengan santai dan tidak terlalu formal sehingga semua dapat didiskusikan dan menjadi kesimpulan dalam rancangan awal,” tandasnya.
Hadir sebagai tenaga ahli, Agustivo Telew, Yosia Lempoy serta para peserta dari unsur instansi terkait di lingkungan Pemprov Sulut.(RR/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *