Doa Suster Karmel Iringi Kiprahnya, Olly Dondokambey: Saya Merasa Terhormat Berada di Sini

Tomohon, Exploresulut.com – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey menyampaikan rasa syukur atas dukungan doa-doa para Suster di Tarekat Ordo Caramelitarium Discalceatorium (OCD) Karmel Tak Berkasut di Kakaskasen, Kota Tomohon kepada ia dan keluarganya.

Hal itu disampaikan Gubernur Olly saat menghadiri perayaan HUT ke-75 Biara Suster OCD, Kamis (4/5/23). Uskup Keuskupan Manado MGR Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC hadir di acara itu. Nampak juga Walikota Carol Senduk dan Wakil Walikota Wenny Lumentut ikut hadir mendampingi.

Gubernur Olly terlihat sengat senang dan nyaman berada di Biara Karmel. Orang nomor satu di Sulut itu sempat mengabadikan kebersamaanya dengan para Suster Karmel Tak Berkasut dengan berselfie. Keluarga Olly Dondokambey-Tamuntuan memang tidak asing dengan lingkungan Biara Karmel. Ia bahkan mengatakan, ibu mertuanya sering berdoa bersama dengan para Suster Karmel.

April 2023 lalu, Gubernur bersama istri tercinta Rita Maya Tamuntuan juga menyempatkan diri berkunjung dan berdoa bersama Suster Karmel di Biara tersebut. Di moment HUT ke-75, Olly datang dan bersyukur bersama para Suster. Ia mengaku sangat terbantu dengan doa para Suster Karmel.

“Doa dari Suster – Suster di Biara Karmel selalu mengiringi kiprah saya dan pemerintahan Pemprov Sulut. Saya mulus jadi anggota DPR, sampai kini berkat doa-doa para suster. Saya merasa terhormat berada di sini,” ucapnya.

Pada kesempatan itu juga, Gubernur menyampaikan, di momen HUT ke-75 ini dapat memperkuat komitmen dan kesaksian dalam melayani kepada masyarakat. Gubernur Olly juga berjanji akan terus memberi dukungan kepada para Suster di Biara Karmel Tomohon.

“Ini merupakan wujud pengakuan iman atas kuasa kasih Tuhan yang terus menuntun kita,” tandasnya.

Sekedar diketahui, para Suster atau Rubiah Karmel Tak Berkasut adalah institut religius dengan karakter utamanya hidup kontemplatif ketat, mereka adalah saksi-saksi kemutlakan Allah dalam diri manusia.

Mereka menanggapi panggilan Tuhan dengan hati yang siap sedia untuk di ubah menjadi kurban yang bukan hanya diwujud nyatakan dengan melepaskan diri dari keluarga dan kebebasan berinteraksi dengan dunia, tetapi lebih dari pada itu untuk membaktikan seluruh hidup dalam doa dan untuk selalu berada di hadirat Allah.

Dengan mengambil bagian dalam kharisma St. Teresa Avila para rubiah karmel tak berkasut di panggil kepada hidup kontemplasi terutama dengan menjadikan seluruh hidupnya sebagai sebuah doa.

Mengkontemplasikan Allah yang hidup setiap hari adalah alasan esistensi hidup dan tugas utama mereka. Dan segala sesuatu yang lain adalah hal-hal yang sekunder. Dan untuk mendukung cara hidup mereka maka para rubiah karmel memilih untuk memisahkan diri secara ketat dengan dunia lewat bentuk hidup di dalam klausura kepausan, di dalam keheningan dan kesendirian.

Lewat Ekaristi kudus yang dirayakan setiap hari para rubiah mendapat kekuatan untuk memelihara kebebasan jasmani dan rohani agar dapat memusatkan seluruh kekuatan hidup mereka untuk berjumpa dengan Allah lewat ibadat harian dan meditasi.

Pengalaman mendalam akan Allah menjadi sumber dan fondasi dari karya kerasulan mereka, lewat mendoakan intensi-intensi Gereja dan kesaksian hidup, namun sama sekali tidak mengambil bagian dalam bentuk pelayanan aktif.(RR/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *